Keunggulan Perbankan Syariah

Terkait perbankan, di Indonesia terdapat dua jenis yaitu perbankan konvensional dan perbankan syariah. Dilihat dari keberadaanya, perbankan konvensional lebih dulu ada daripada perbankan syariah. Bank konvensional sudah ada sebelum Indonesia merdeka, sementara perbankan syariah baru ada pada tahun 1990-an.

Sejak Indonesia masih dijajah oleh Belanda, telah ada praktek perbankan. Pada saat itu perbankan sudah menggunakan sistem bunga seperti yang diterapkan pada masa kini. Misalkan ada seseorang yang menggunakan jasa perbankan, maka ia dikenakan biaya (atau disebut fee). Setelah Indonesia merdeka, dilakukanlah nasionalisasi terhadap bank-bank milik Belanda tersebut. Bank-bank inilah yang kemudian dikenal dengan istilah bank konvensional.

Perbankan syariah sendiri mulai ada di Indonesia sekitar tahun 1990-an. Pada tahun 1991 didirikan Bank Muamalat Indonesia dan beberapa Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) yang menerapkan sistem syariah. Pada tahun berikutnya disahkanlah Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan. Undang-undang inilah yang dijadikan dasar oleh perbankan syariah dalam menjalankan sistem bagi hasil. Dalam perjalanannya, undang-undang tersebut diubah menjadi Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan. Undang-undang ini, walaupun telah mengatur perbankan dengan menggunakan sistem bagi hasil tetapi beberapa pihak masih menginginkan undang-undang tersendiri yang mengatur tentang perbankan syariah. Kemudian atas usulan beberapa pihak, akhirnya disahkanlah Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. Undang-undang inilah yang secara khusus mengatur tentang perbankan syariah dan dijadikan dasar usaha perbankan syariah di Indonesia.

Dengan umurnya yang masih relatif muda tersebut, perbankan syariah mengalami pertumbuhan yang cukup menggembirakan. Hal ini ditandai dengan terus meningkatnya jumlah aset yang dimiliki perbankan syariah. Dikalangan masyarakat, perbankan syariah mulai diminati karena melihat beberapa kelebihan yang ditawarkannya. Sebagai contoh yaitu banyak para nasabah khususnya dari kalangan menengah kebawah yang tertarik dengan tabungan yang membebaskan biaya administasi. Bukan hanya itu, perbankan konvensional juga banyak yang membuka bank syariah sebagai anak usahanya. Langkah yang dilakukan perbankan konvensional ini seolah menandakan adanya peluang besar bagi pertumbuhan perbankan syariah.

Perbedaan yang paling mencolok antara perbankan konvensional dan perbankan syariah adalah penggunaan sistem bunga dan sistem bagi hasil. Penggunaan sistem bagi hasil oleh sebagian kalangan dinilai lebih stabil dalam menghadapi gejolak perekonomian dunia. Dalam penggunaan sistem bunga, bank konvensional sangat dipengaruhi oleh arah kebijakan dan perekonomian ekonomi global. Hal ini berbeda dengan perbankan syariah yang dapat menentukan kebijakannya sendiri dalam sistem bagi hasil yang digunakannya.

Dalam prakteknya, produk yang dikeluarkan perbankan syariah tidak jauh beda dengan produk perbankan konvensional. Produk perbankan syariah terbagi menjadi tiga bagian yaitu produk penghimpunan dana, produk penyaluran dana dan produk yang berkaitan dengan jasa. Ketiga produk tersebut diawasi oleh Dewan Syariah Nasional untuk memastikan bahwa praktek yang dilaksanakan sesuai sistem syariah Islam. Dengan adanya pengawasan tersebut, maka bisa dipastikan bahwa produk perbankan syariah sesuai dengan hukum syariah Islam. Hal ini tentunya memberi rasa ketenangan tersendiri bagi para nasabah, khususnya bagi nasabah muslim yang memilih perbankan syariah karena ingin menjauhi riba.

Perbankan syariah lebih unggul bila dibandingkan perbankan konvensional. Suku bunga di perbankan konvensional ditetapkan di awal. Dalam hal ini, bank mengambil keuntungan dengan cara menetapkan suku bunga produk penyaluran dana yang selalu lebih tinggi dari produk penghimpunan dana. Bank juga mengambil keuntungan dari biaya administrasi para nasabahnya. Biaya administrasi tersebut nilainya cukup besar bagi kalangan menengah kebawah.

Perbankan syariah tidak menetapkan suku bunga di awal sebagaimana yang dilakukan perbankan konvensional. Dalam produk penghimpunan dana misalnya, yang ditentukan oleh bank syariah di awal hanyalah prosentase bagi hasil bank dan nasabah. Dalam hal bank syariah mendapat untung, maka keuntungan tersebut akan dibagi antara bank dan nasabah sesuai prosentasi yang telah ditentukan di awal. Semakin besar keuntungan yang diperoleh bank, maka nasabah juga mendapat bagi hasil yang semakin besar. Oleh karena itu bagi hasil yang diterima nasabah bisa saja berbeda tiap bulan.

Setiap produk yang dikeluarkan oleh perbankan syariah selalu memberikan kemudahan dan keuntungan bagi nasabah. Dalam produk penghimpun dana, sudah banyak bank syariah yang membebaskan biaya administrasi. Bank syariah memberikan imbal bagi hasil secara fair kepada nasabah. Artinya, semakin besar keuntungan yang diperoleh pihak bank maka semakin besar pula imbal bagi hasil yang diterima nasabah. Hal ini berbeda dengan bank konvensional yang selalu memberikan bunga yang sama tiap bulannya sesuai dengan suku bunga yang ditentukan tanpa memperhitungkan besarnya keuntungan yang diterima bank.

Dalam produk penyaluran dana, nasabah pun diberi kemudahan. Sebagai contoh yaitu dalam produk pembiayaan dengan akad murabahah. Dalam akad tersebut, nasabah bisa lebih merasa tenang karena besarnya cicilan yang harus dibayarkan sudah ditetapkan dari awal dan tidak berubah-ubah. Berbeda dengan bank konvensional yang bisa saja membebankan cicilan yang lebih besar daripada sebelumnya dikarenakan naiknya suku bunga pasar. Nasabah juga diberi kemudahan dan keuntungan dalam akad yang lain seperti rahn (gadai). Apabila setelah jatuh tempo dan nasabah wanprestasi maka pihak bank dapat menjual barang yang digadaikan dengan perintah hakim. Apabila hasil penjualan tersebut melebihi kewajiban nasabah maka bank diharuskan memberikan kelebihannya kepada nasabah.

Dengan berbagai keunggulan tersebut, perbankan syariah mempunyai potensi yang sangat besar untuk meningkatkan jumlah nasabah baru dan terus menambah asetnya. Perbankan syariah bukan hanya diminati oleh umat muslim saja, melainkan non-muslim pun banyak yang tertarik. Non-muslim tersebut tertarik tentunya karena mengetahui keunggulan yang dimiliki perbankan syariah. Oleh karena itu perbankan syariah harus terus meningkatkan kualitas layanan dan produknya. Disamping itu, perbankan syariah pun harus terus melakukan pengenalan produknya dikarenakan banyak yang belum mengetahui produk dan keunggulan perbankan syariah. Apabila hal tersebut dilakukan, tidak mustahil bank syariah akan bisa sejajar dengan bank konvensional.

About Nur Fatah Sururi

Blog pribadi milik Nur Fatah Sururi

Posted on 2014/03/30, in Artikel. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: